Usai Diretas Rp 114 Triliun, Binance Kehilangan Arus Dana Rp 66 Triliun
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Bursa aset kripto terbesar di dunia, Binance, menghadapi gelombang penarikan dana dari pengguna setelah kembali mengaktifkan layanan penarikan aset pada Minggu (01/11/2026).
Kondisi ini terjadi menyusul insiden peretasan yang menyebabkan aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 114 triliun dicuri dari platform tersebut.
Berdasarkan data transaksi yang dilaporkan, arus keluar bersih Binance mencapai 3,64 miliar dolar AS atau setara Rp 66,06 triliun. Angka tersebut mencerminkan selisih antara dana yang ditarik pengguna dan dana yang masuk melalui setoran.
Baca: Rupiah Tertekan, BI Perkuat Insentif Modal Asing dan Naikkan Bunga Deposit Jadi 5 Persen
Dalam periode pengamatan pada 1 November 2026, pukul 06.00 hingga 15.30 UTC, nilai penarikan tercatat sekitar 4,65 miliar dolar AS. Sementara itu, dana yang masuk melalui deposit mencapai sekitar 1,01 miliar dolar AS.
Dengan demikian, arus keluar bersih mencapai sekitar 3,64 miliar dolar AS atau 2,1 persen dari total aset Binance.
Baca: Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun, Utang Baru Hampir Rp500 Triliun
Mengacu pada laporan cadangan aset atau proof of reserves per 28 Oktober 2026, Binance memiliki total aset sekitar 171 miliar dolar AS.
Penarikan Dana Mulai Stabil
Meski sempat mengalami lonjakan penarikan setelah layanan kembali dibuka, Binance menyatakan aktivitas tersebut mulai menunjukkan kondisi yang lebih stabil.
Baca: Pertamina GP Indonesia 2026 Bikin Ekonomi Lokal Lombok Melesat, Omzet Kuliner Naik
Perusahaan juga menyebut volume setoran dari pengguna masih berada pada tingkat yang cukup besar.
Pemulihan layanan penarikan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan aset berdasarkan tingkat permintaan pengguna. Tahap awal mencakup 15 aset dan jaringan, termasuk Bitcoin, Ether, sejumlah stablecoin USDC dan USDT, serta Dogecoin.
Baca: World Bank Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen
Binance menjelaskan bahwa pembukaan layanan dilakukan secara bertahap untuk memastikan keamanan dan kelancaran transaksi setelah insiden keamanan.
Di sisi lain, platform analisis aset kripto DefiLlama mencatat estimasi arus keluar yang lebih tinggi, yakni mencapai 5,81 miliar dolar AS.
Namun, Binance menyampaikan bahwa perhitungan tersebut belum memasukkan perpindahan dana internal ke dompet digital baru milik perusahaan.
Baca: Hendry Munief: Industri Harus Jadi Ekosistem Bisnis, Semua Sektor Berdampak Positif bagi Masyarakat
Binance Siapkan Dana untuk Menutup Kerugian
Di tengah kekhawatiran pengguna, Binance menegaskan akan menanggung dampak finansial akibat peretasan tersebut.
Baca: OJK Siapkan Aturan Dividen Bank, Laba Harus Disisihkan untuk Perkuat Keamanan IT
Perusahaan menyatakan telah mengganti sekitar 95 persen dari total aset yang dicuri, dengan nilai mencapai sekitar 6 miliar dolar AS. Penggantian dilakukan menggunakan dana internal perusahaan untuk membeli kembali token yang terdampak.
Sementara itu, sekitar 5 persen aset yang belum sepenuhnya dipulihkan terdiri atas token dengan likuiditas lebih rendah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk diperoleh.
Binance juga menyiapkan dana sekitar 6,34 miliar dolar AS untuk menutup dampak kerugian akibat serangan siber tersebut.
Baca: IHSG Tertekan Usai Reshuffle Prabowo, Level 6.000 Kembali Jadi Sorotan Investor
Dana pemulihan berasal dari sejumlah sumber, termasuk Secure Asset Fund for Users (SAFU), Futures Insurance Fund, serta kas perusahaan.
FBI Kaitkan Peretasan dengan Kelompok Siber Korea Utara
Baca: BPJS Kesehatan Dapat Suntikan Rp20 Triliun, Menkes Soroti Layanan Rumah Sakit
Kasus peretasan Binance turut menjadi perhatian aparat penegak hukum Amerika Serikat.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas yang diduga disponsori negara Korea Utara, yakni TraderTraitor.
FBI menyebut pihaknya mengamati adanya aktivitas pemindahan aset hasil pencurian ke dalam mata uang kripto Ether. Aparat juga memperingatkan adanya potensi upaya pencucian aset melalui teknologi dan layanan transaksi kripto lainnya.
Baca: Kampar Perkuat Digitalisasi Keuangan dan Akses Fintech untuk UMKM
Meski demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keterlibatan Korea Utara belum sepenuhnya dipastikan.
Peristiwa ini kembali menyoroti risiko keamanan dalam industri aset digital, khususnya pada platform perdagangan kripto berskala besar.
Baca: Subsidi Energi 2027 Dipangkas, Anggaran BBM dan LPG 3 Kg Jadi Rp131,39 Triliun
Besarnya nilai dana yang dicuri dan gelombang penarikan setelah layanan kembali dibuka menjadi ujian bagi Binance dalam menjaga kepercayaan pengguna serta memperkuat sistem keamanan platformnya. (SM)
