IHSG Tertekan Usai Reshuffle Prabowo, Level 6.000 Kembali Jadi Sorotan Investor
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (02/10/2026) setelah sehari sebelumnya merosot 1,02 persen ke level 6.009,50.
Pergerakan IHSG menjadi perhatian investor karena indeks sempat turun menembus level 6.000 pada perdagangan Kamis (01/10/2026), sebelum kembali bergerak di atas level psikologis tersebut. Tekanan pasar berlangsung setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle Kabinet Merah Putih untuk ketujuh kalinya.
Data perdagangan menunjukkan sekitar 450 saham mengalami penurunan. Di sisi lain, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp240 miliar di pasar reguler.
Baca: Digitalisasi Bansos Dimulai, Masyarakat Bisa Daftar dan Ajukan Sanggahan
Analis BRI Danareksa Sekuritas melihat investor masih mencermati dampak perubahan susunan kabinet, bersamaan dengan sejumlah sentimen global yang berpotensi memengaruhi pasar saham Indonesia.
“Fokus sentimen selanjutnya bergeser ke rilis data ekonomi global, terutama data tenaga kerja AS yang akan menjadi perhatian dalam membaca arah kebijakan The Fed,” jelas analis BRI Danareksa, dalam catatan yang disampaikan kepada investor.
Baca: APBN 2027 Disahkan, Belanja Negara Rp4.106 Triliun untuk Program Prioritas
IHSG Masih Berada dalam Tekanan
Secara teknikal, IHSG dinilai masih menghadapi tekanan setelah menembus area support Fibonacci 6.019. Namun, indeks masih mampu ditutup di atas level psikologis 6.000.
Indikator MACD juga masih menunjukkan momentum bearish. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan dapat bergerak konsolidasi di rentang 6.000-6.200.
Baca: Hendry Munief: Kawasan Industri Jangan Hanya Bangun Kawasan, Harus Hasilkan Ekonomi Nyata
“Support berikutnya berada di 5.854, sedangkan resistance 6.185-6.240. Kemampuan kembali menembus 6.185 menjadi konfirmasi awal untuk membuka ruang technical rebound,” imbuh analis BRI Danareksa.
Sementara itu, analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 6.000. Apabila indeks ditutup di bawah level tersebut, area 5.800-5.900 menjadi perhatian berikutnya.
Baca: Kampar Perkuat Digitalisasi Keuangan dan Akses Fintech untuk UMKM
“Jika IHSG ditutup di bawah level tersebut, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di 5.800-5.900,” imbuh analis Phintraco.
Reshuffle Jadi Salah Satu Sentimen Pasar
Perubahan susunan Kabinet Merah Putih menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar. Namun, pelemahan IHSG tidak semata-mata disebabkan reshuffle.
Baca: DPR Perkuat Koordinasi Ekonomi, Dasco Soroti Sinkronisasi Kebijakan Nasional
Pasar sebelumnya telah menghadapi tekanan akibat arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, serta kondisi pasar global. Bisnis.com juga melaporkan IHSG telah berada dalam tekanan sebelum reshuffle dan investor masih menunggu kejelasan arah kebijakan dari para pejabat baru.
Pada reshuffle 1 Oktober 2026, sejumlah posisi strategis mengalami perubahan, termasuk Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Sugiono sebagai Menko PMK, Dudung Abdurachman sebagai Menko Politik dan Keamanan, serta Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri.
Baca: Emas Antam Kembali Naik, Harga 1 Gram Capai Rp2,638 Juta
Harga Minyak Ikut Menjadi Perhatian
Selain sentimen domestik, pasar juga mencermati kenaikan harga minyak mentah. Kontrak berjangka Brent berada di sekitar US$102,42 per barel, sedangkan WTI mencapai US$92,87 per barel.
Di pasar Amerika Serikat, tiga indeks utama Wall Street justru berakhir menguat pada perdagangan Kamis. Dow Jones naik 0,04 persen, S&P 500 bertambah 0,19 persen, sedangkan Nasdaq Composite meningkat 0,03 persen.
Baca: The Fed Diproyeksi Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Rupiah hingga IHSG Dibayangi Tekanan
Dengan demikian, level 6.000 menjadi area penting yang kembali diperhatikan pelaku pasar dalam melihat arah IHSG pada perdagangan selanjutnya. (SM)
