The Fed Diproyeksi Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Rupiah hingga IHSG Dibayangi Tekanan
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia memasuki periode penuh perhatian menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026. Rabu (16/09/2026).
Pelaku pasar secara umum telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps). Dengan kenaikan tersebut yang relatif sudah diantisipasi, arah pasar keuangan Indonesia selanjutnya dinilai lebih bergantung pada sinyal kebijakan The Fed setelah keputusan diumumkan.
Perhatian investor akan tertuju pada forward guidance serta summary of economic projections (SEP) yang dirilis bersamaan dengan keputusan FOMC. Kedua indikator tersebut dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat berikutnya.
Baca: Utang Whoosh Jadi Sorotan, Kemenkeu Pastikan Pengalihan Saham Masih Berproses
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan keputusan The Fed akan memengaruhi pasar domestik melalui perubahan likuiditas global dan sentimen investor terhadap aset berisiko.
Salah satu aset yang berpotensi merasakan dampak paling cepat adalah rupiah. Kenaikan suku bunga Amerika Serikat dapat mempertahankan daya tarik aset berbasis dolar AS sehingga berpotensi memicu perpindahan dana dari pasar negara berkembang.
Baca: APINDO Ungkap Harapan Dunia Usaha kepada Menteri Keuangan Baru: 3 Aspek Jadi Catatan
“Di sinilah efektivitas respons bauran kebijakan Bank Indonesia diuji. Pasar akan mencermati seberapa kuat instrumen stabilisasi seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SVBI/SUVBI), serta strategi triple intervention meredam volatilitas nilai tukar agar tidak merembet liar ke sektor riil,” jelas Rahma.
Yield SBN Berpotensi Naik
Dampak kebijakan The Fed juga berpotensi merambat ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Jika pengetatan moneter global berlanjut, imbal hasil atau yield obligasi domestik berpeluang bergerak lebih tinggi.
Baca: Mengapa Purbaya Dicopot? Ini Alasan di Balik Reshuffle Menkeu oleh Prabowo
Kondisi tersebut dapat menekan harga obligasi sekaligus meningkatkan premi risiko yang diminta investor. Pada akhirnya, kenaikan yield SBN dapat berdampak terhadap biaya pendanaan di pasar keuangan, termasuk pembiayaan melalui obligasi korporasi dan pinjaman perbankan.
Untuk pasar saham, tekanan juga berpotensi muncul, terutama apabila investor menilai kenaikan suku bunga The Fed merupakan awal dari periode pengetatan yang lebih panjang.
Baca: Sidak PT Sambu, Adam Syafaat: Industri Harus Jalan, Petani Kelapa Harus Sejahtera
Sektor perbankan, properti, serta emiten yang memiliki eksposur utang dalam valuta asing menjadi sejumlah sektor yang perlu diperhatikan ketika kondisi likuiditas global mengetat.
“Jika probabilitas kenaikan suku bunga ini telah fully priced-in, tekanan di pasar saham mungkin tidak akan terlalu dramatis. Namun, reaksi volatil akan sangat ditentukan oleh forward guidance. (SM)
