Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan tajam setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk menekan inflasi hingga mencapai target 2%.
Pernyataan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar. Harga emas batangan sempat merosot hingga 2,9%, sekaligus menjadi penurunan paling tajam sejak Juli 2026. Penguatan dolar AS turut menambah tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Dalam pidato pertamanya sejak menjabat sebagai Ketua The Fed pada Mei 2026, Warsh menekankan bahwa perjuangan melawan inflasi masih menjadi prioritas utama bank sentral AS.
Ia menyatakan target inflasi 2% tetap menjadi sasaran yang harus dicapai. Pernyataan itu kemudian mendorong pelaku pasar meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Warsh juga menegaskan bahwa instrumen suku bunga tetap menjadi perangkat utama dalam menjalankan kebijakan moneter.
“suku bunga jangka pendek merupakan instrumen utama untuk mencapai mandat ganda.”
Pernyataan tersebut disampaikan Warsh dalam konferensi tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat waktu setempat.
“Kebijakan nonkonvensional untuk mendorong aktivitas ekonomi mungkin sesuai untuk menghadapi krisis yang sebenarnya, tetapi di luar itu sebaiknya digunakan secara terbatas, jika memang perlu digunakan,” katanya dalam konferensi tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Tekan Emas
Pasar merespons pernyataan Warsh dengan meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Investor kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini semakin terbuka, termasuk kemungkinan pada September.
Data pasar menunjukkan harga emas spot turun hingga sekitar US$4.567 per troy ounce, sedangkan kontrak berjangka emas AS juga mengalami tekanan. Reuters melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat setelah pernyataan Warsh mengenai inflasi.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar meningkat.
Penguatan dolar AS juga membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan di pasar global.
Investor Menanti Arah Kebijakan The Fed
Pasar kini akan mencermati perkembangan data inflasi AS serta pernyataan pejabat The Fed berikutnya untuk mengetahui arah kebijakan moneter selanjutnya.
Sebelumnya, Warsh telah memperingatkan bahwa inflasi AS belum menunjukkan perlambatan yang cukup meyakinkan. Karena itu, The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat apabila tekanan harga belum bergerak menuju target 2%.
Penurunan emas tersebut menunjukkan bahwa setiap sinyal mengenai perubahan suku bunga AS masih menjadi faktor penting bagi pergerakan harga logam mulia. Investor akan terus mencermati kombinasi data inflasi, pasar tenaga kerja, nilai tukar dolar, serta keputusan The Fed dalam menentukan arah harga emas berikutnya. (SM)
