5 Raksasa Tiongkok yang Perkuat Cengkeraman Investasi di Indonesia, dari BYD hingga Tsingshan
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Indonesia semakin menjadi magnet investasi bagi perusahaan-perusahaan besar asal Tiongkok. Investasi tersebut tidak lagi sebatas perdagangan dan pasar konsumen, tetapi telah merambah sektor strategis seperti kendaraan listrik, teknologi digital, baterai, hingga industri pengolahan nikel. Senin (07/09/2026).
Besarnya skala proyek yang digarap membuat sejumlah perusahaan Tiongkok memiliki posisi penting dalam perkembangan industri nasional. Kehadiran mereka juga sejalan dengan agenda hilirisasi yang mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.
Berikut lima perusahaan raksasa asal Tiongkok yang memiliki jejak investasi signifikan di Indonesia.
Baca: Tinggalkan PNS, Zulhas Ungkap Rahasia Penghasilan Setara Rp1 Miliar Sebulan pada 1985
1. BYD, Bangun Basis Produksi Mobil Listrik di Indonesia
Nama BYD semakin kuat di industri kendaraan listrik Indonesia. Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok tersebut tidak hanya memasarkan produknya di Tanah Air, tetapi juga membangun fasilitas produksi.
Baca: Kabar Baik..! Menkeu Purbaya Buka Opsi Naikkan Batas Omzet UMKM Bebas PPh Pasal 22
Pabrik BYD berlokasi di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat. Investasi fasilitas tersebut diperkirakan mencapai US$1,3 miliar atau sekitar Rp19,5 triliun.
Pabrik tersebut dirancang mempunyai kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Langkah ini menunjukkan perubahan strategi BYD di Indonesia. Tanah Air bukan hanya dipandang sebagai pasar kendaraan listrik, tetapi juga berpotensi menjadi basis produksi untuk mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Baca: Prabowo Target Tutup 700 BUMN hingga Akhir 2026, Efisiensi Rp100 Triliun
2. Huawei, Dorong Pengembangan Teknologi dan R&D
Perusahaan teknologi asal Tiongkok, Huawei, juga memiliki rekam jejak panjang di Indonesia. Perusahaan ini telah beroperasi di Tanah Air selama sekitar 25 tahun dan terlibat dalam berbagai sektor teknologi.
Baca: Kemenhub Naikkan Fuel Surcharge Tiket Pesawat Ekonomi hingga 40 Persen
Selain mengembangkan bisnis, Huawei juga menaruh perhatian pada kegiatan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).
Investasi yang disebut dialokasikan untuk kegiatan R&D di Indonesia mencapai sekitar 192,3 juta yuan.
Secara global, Huawei juga dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi dengan portofolio paten yang sangat besar. Hal tersebut memperlihatkan bahwa investasi perusahaan Tiongkok di Indonesia tidak hanya menyasar sektor manufaktur, tetapi juga mulai menyentuh pengembangan teknologi dan ekosistem digital.
3. CATL, Garap Rantai Industri Baterai Kendaraan Listrik
Perkembangan kendaraan listrik membuat industri baterai menjadi salah satu sektor strategis di Indonesia. Salah satu perusahaan yang masuk ke sektor ini adalah CATL, produsen baterai kendaraan listrik asal Tiongkok.
Di Indonesia, CATL terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp96 triliun.
Proyek ini memiliki cakupan yang luas, mulai dari pertambangan dan pengolahan nikel, produksi bahan baku baterai, pembuatan sel baterai hingga fasilitas daur ulang.
Pengembangan proyek juga mencakup sejumlah wilayah, antara lain Maluku Utara dan Karawang, Jawa Barat.
Masuknya CATL memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global sekaligus memperbesar peluang pengolahan sumber daya mineral menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
4. Jiangsu Delong, Perkuat Industri Pengolahan Nikel
Sektor nikel menjadi salah satu bidang yang banyak menarik investasi dari perusahaan Tiongkok. Salah satunya adalah Jiangsu Delong, yang memiliki proyek industri pengolahan nikel di Indonesia.
Salah satu proyek yang berkaitan dengan perusahaan tersebut adalah PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Berdasarkan daftar proyek smelter yang diawasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2025, realisasi investasi GNI tercatat sekitar Rp35,8 triliun.
Nilai tersebut menempatkan proyek GNI sebagai salah satu investasi smelter dengan nilai realisasi yang besar dalam daftar proyek yang diawasi pemerintah.
Kehadiran proyek tersebut sekaligus menggambarkan besarnya peran investasi asing dalam mendorong pengolahan nikel di Indonesia.
5. Tsingshan, Salah Satu Pemain Utama Hilirisasi Nikel Morowali
Nama Tsingshan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri nikel dan stainless steel di Indonesia.
Perusahaan asal Tiongkok tersebut memiliki peran dalam pengembangan industri di kawasan Morowali, Sulawesi Tengah. Salah satu kawasan industri yang berkaitan dengan aktivitasnya memiliki luas lebih dari 5.500 hektare.
Skala kawasan tersebut mencerminkan besarnya aktivitas industri yang berkembang di Morowali sekaligus menunjukkan bagaimana investasi asing ikut membentuk rantai industri berbasis mineral di Indonesia.
Morowali sendiri menjadi salah satu kawasan yang menonjol dalam perkembangan industri pengolahan nikel dan hilirisasi mineral nasional.
Investasi Tiongkok Bergeser ke Industri Strategis
Masuknya perusahaan-perusahaan besar Tiongkok tersebut memperlihatkan adanya perubahan pola investasi di Indonesia.
Jika sebelumnya investasi lebih banyak berorientasi pada perdagangan dan pasar, kini perusahaan asing juga membangun fasilitas produksi, mengembangkan rantai pasok, mengolah bahan mentah, serta masuk ke sektor strategis seperti kendaraan listrik dan baterai.
Kondisi tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, sekaligus membangun kapasitas industri nasional.
Namun, besarnya investasi asing juga menghadirkan tantangan tersendiri. Indonesia perlu memastikan agar aktivitas industri tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi turut meningkatkan penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, serta keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai pasok.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya menghasilkan investasi dan fasilitas industri baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan bagi Indonesia. (SM)
