5 Raksasa Tiongkok yang Perkuat Cengkeraman Investasi di Indonesia, dari BYD hingga Tsingshan
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Indonesia semakin menjadi magnet investasi bagi perusahaan-perusahaan besar asal Tiongkok. Investasi tersebut tidak lagi sebatas perdagangan dan pasar konsumen, tetapi telah merambah sektor strategis seperti kendaraan listrik, teknologi digital, baterai, hingga industri pengolahan nikel. Senin (07/09/2026).
Besarnya skala proyek yang digarap membuat sejumlah perusahaan Tiongkok memiliki posisi penting dalam perkembangan industri nasional. Kehadiran mereka juga sejalan dengan agenda hilirisasi yang mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.
Berikut lima perusahaan raksasa asal Tiongkok yang memiliki jejak investasi signifikan di Indonesia.
Baca: Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun Borong Saham, Ajak Pengusaha Indonesia Kompak Hadapi MSCI
1. BYD, Bangun Basis Produksi Mobil Listrik di Indonesia
Nama BYD semakin kuat di industri kendaraan listrik Indonesia. Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok tersebut tidak hanya memasarkan produknya di Tanah Air, tetapi juga membangun fasilitas produksi.
Baca: Hendry Munief Dorong Pelaku IKM Pekanbaru Naik Kelas, Berharap Dukungan Anggaran Berlanjut pada 2027
Pabrik BYD berlokasi di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat. Investasi fasilitas tersebut diperkirakan mencapai US$1,3 miliar atau sekitar Rp19,5 triliun.
Pabrik tersebut dirancang mempunyai kapasitas produksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Langkah ini menunjukkan perubahan strategi BYD di Indonesia. Tanah Air bukan hanya dipandang sebagai pasar kendaraan listrik, tetapi juga berpotensi menjadi basis produksi untuk mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Baca: Jalan di Inhu-Inhil Rusak Diduga Akibat Angkutan Batu Bara, DPRD Riau Bakal Panggil Pengusaha
2. Huawei, Dorong Pengembangan Teknologi dan R&D
Perusahaan teknologi asal Tiongkok, Huawei, juga memiliki rekam jejak panjang di Indonesia. Perusahaan ini telah beroperasi di Tanah Air selama sekitar 25 tahun dan terlibat dalam berbagai sektor teknologi.
Baca: Inflasi AS Melonjak ke 3,7%, Surplus Dagang China Tembus US$133 Miliar: Pasar Menanti Sinyal The Fed
Selain mengembangkan bisnis, Huawei juga menaruh perhatian pada kegiatan penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).
Investasi yang disebut dialokasikan untuk kegiatan R&D di Indonesia mencapai sekitar 192,3 juta yuan.
Secara global, Huawei juga dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi dengan portofolio paten yang sangat besar. Hal tersebut memperlihatkan bahwa investasi perusahaan Tiongkok di Indonesia tidak hanya menyasar sektor manufaktur, tetapi juga mulai menyentuh pengembangan teknologi dan ekosistem digital.
Baca: Harga Batu Bara Cetak Rekor Hampir 3 Tahun, Indonesia Jadi Andalan Dunia
3. CATL, Garap Rantai Industri Baterai Kendaraan Listrik
Perkembangan kendaraan listrik membuat industri baterai menjadi salah satu sektor strategis di Indonesia. Salah satu perusahaan yang masuk ke sektor ini adalah CATL, produsen baterai kendaraan listrik asal Tiongkok.
Baca: Hendry Munief: Industri Harus Jadi Ekosistem Bisnis, Semua Sektor Berdampak Positif bagi Masyarakat
Di Indonesia, CATL terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$6 miliar atau sekitar Rp96 triliun.
Proyek ini memiliki cakupan yang luas, mulai dari pertambangan dan pengolahan nikel, produksi bahan baku baterai, pembuatan sel baterai hingga fasilitas daur ulang.
Baca: Digitalisasi Bansos Dimulai, Masyarakat Bisa Daftar dan Ajukan Sanggahan
Pengembangan proyek juga mencakup sejumlah wilayah, antara lain Maluku Utara dan Karawang, Jawa Barat.
Masuknya CATL memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global sekaligus memperbesar peluang pengolahan sumber daya mineral menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Baca: Transfer ke Daerah APBN 2027 Naik Jadi Rp735 Triliun, Ini Rinciannya
4. Jiangsu Delong, Perkuat Industri Pengolahan Nikel
Sektor nikel menjadi salah satu bidang yang banyak menarik investasi dari perusahaan Tiongkok. Salah satunya adalah Jiangsu Delong, yang memiliki proyek industri pengolahan nikel di Indonesia.
Salah satu proyek yang berkaitan dengan perusahaan tersebut adalah PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Baca: Restitusi Pajak Era Suahasil Diperketat, Menkeu Tegaskan Hak Wajib Pajak Tetap Dijamin
Berdasarkan daftar proyek smelter yang diawasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2025, realisasi investasi GNI tercatat sekitar Rp35,8 triliun.
Nilai tersebut menempatkan proyek GNI sebagai salah satu investasi smelter dengan nilai realisasi yang besar dalam daftar proyek yang diawasi pemerintah.
Baca: Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Capai Rp8,3 Juta per Bulan, Zulhas Ungkap Status Kerjanya
Kehadiran proyek tersebut sekaligus menggambarkan besarnya peran investasi asing dalam mendorong pengolahan nikel di Indonesia.
5. Tsingshan, Salah Satu Pemain Utama Hilirisasi Nikel Morowali
Nama Tsingshan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri nikel dan stainless steel di Indonesia.
Baca: Pemkab Kampar Perkuat Sinergi Ekonomi Daerah Lewat RUPSLB BRK Syariah
Perusahaan asal Tiongkok tersebut memiliki peran dalam pengembangan industri di kawasan Morowali, Sulawesi Tengah. Salah satu kawasan industri yang berkaitan dengan aktivitasnya memiliki luas lebih dari 5.500 hektare.
Skala kawasan tersebut mencerminkan besarnya aktivitas industri yang berkembang di Morowali sekaligus menunjukkan bagaimana investasi asing ikut membentuk rantai industri berbasis mineral di Indonesia.
Baca: Dekranasda Kampar Dorong Kerajinan Lokal dan UMKM Tembus Pasar Nasional
Morowali sendiri menjadi salah satu kawasan yang menonjol dalam perkembangan industri pengolahan nikel dan hilirisasi mineral nasional.
Investasi Tiongkok Bergeser ke Industri Strategis
Masuknya perusahaan-perusahaan besar Tiongkok tersebut memperlihatkan adanya perubahan pola investasi di Indonesia.
Baca: Muhammadiyah Dorong Kemandirian Ekonomi Umat Berbasis Tauhid dan Kolaborasi
Jika sebelumnya investasi lebih banyak berorientasi pada perdagangan dan pasar, kini perusahaan asing juga membangun fasilitas produksi, mengembangkan rantai pasok, mengolah bahan mentah, serta masuk ke sektor strategis seperti kendaraan listrik dan baterai.
Kondisi tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, sekaligus membangun kapasitas industri nasional.
Baca: 40 Persen Saham BEI Bakal Dimiliki Danantara, Independensi Jadi Sorotan
Namun, besarnya investasi asing juga menghadirkan tantangan tersendiri. Indonesia perlu memastikan agar aktivitas industri tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi turut meningkatkan penguasaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, serta keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai pasok.
Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya menghasilkan investasi dan fasilitas industri baru, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan bagi Indonesia. (SM)
