Industri Halal Indonesia di 2025 Tumbuh 6,2 Persen: Q1 2026 Tetap Tinggi
KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Bank Indonesia (BI) meluncurkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025. Dalam hal ini, BI menggandeng dan bekerja sama dengan beberapa pemangku kepentingan.
Peluncuran tersebut bersamaan dengan Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS), dan Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026. Rangkaian kegiatan bertema “Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” menjadi forum diseminasi asesmen tantangan, strategi, dan arah kebijakan ekonomi dan keuangan syariah.
Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) untuk mendorong intermediasi sektor keuangan syariah. Kegiatan ini diselenggarakan oleh KNEKS, Bank Indonesia, dan OJK, dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian UMKM, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Agama, Perdagangan, Koperasi, ATR/BPN, serta BUMN.
Kuartal I 2026 Tetap Tinggi
Baca: Tahun 2025, Laba Bersih BSI Tumbuh 8 Persen: Ditopang oleh Bisnis Emas
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) BI Imam Hartono menyatakan ekonomi dan keuangan syariah nasional tetap menunjukkan daya saing di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Hal tersebut tercermin dari kinerja Halal Value Chain (HVC) yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025.
Dari sisi keuangan, hingga akhir 2025 pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% (yoy), didukung penyaluran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun, atau 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11% (yoy) pada 2025, sektor HVC tumbuh 6,2% (yoy). Hal itu didorong oleh peningkatan kinerja sektor makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta industri fashion. Kontribusi HVC terhadap PDB juga meningkat dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025, atau naik 155 basis poin.
Selain itu, akselerasi pembiayaan juga didorong melalui berbagai program, salah satunya Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) yang kembali diluncurkan tahun ini. Pada tahun sebelumnya, rangkaian kegiatan BPS membukukan realisasi sebesar Rp 939 miliar atau 60 persen lebih tinggi dibandingkan target Rp 589 miliar.
Baca: Spin-off Perbankan Syariah Meningkat, BSI Masih Kuasai 40 Persen Pasar
Tahun ini, program tersebut disempurnakan melalui perluasan ke sektor keuangan sosial, pelibatan startup dan industri keuangan nonbank (IKNB), serta optimalisasi platform digital. Dengan penguatan ini, Bank Indonesia berharap pembiayaan syariah semakin meningkat pada 2026.
Di pasar uang dan pasar valas (PUVA) syariah, pemanfaatan instrumen lindung nilai oleh perbankan syariah meningkat 86,5% (yoy) menjadi 466 juta dolar AS, mencerminkan penguatan manajemen risiko dan pendalaman pasar keuangan syariah.
Dari sisi keuangan sosial, penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) melalui Baznas mencapai Rp52,5 triliun hingga kuartal II 2025, tumbuh 43% dibandingkan akumulatif 2024. Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% (yoy) dengan outstanding Rp1,4 triliun pada akhir 2025.
Imam menambahkan, penguatan tersebut didukung peningkatan literasi ekonomi syariah yang mencapai 50,18%, hampir dua kali lipat dibandingkan 2023, seiring sinergi kebijakan nasional melalui RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029.
Baca: Indonesia Masuk Tiga Besar Ekonomi Syariah Global, Kontribusi pada PDB Capai 47,3 Persen
Peningkatan itu merupakan hasil sinergi berbagai pihak melalui program pemberdayaan dan edukasi berkelanjutan, salah satunya melalu penempatan ekonomi syariah sebagai pilar strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 sebagai implementasi Asta Cita.
Sumber: Republika
