Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun Borong Saham, Ajak Pengusaha Indonesia Kompak Hadapi MSCI
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Pengusaha nasional Jusuf Hamka mengajak para pengusaha Indonesia bersatu mendukung pasar modal domestik di tengah tekanan yang melanda Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia bersama sejumlah rekan bisnisnya menyiapkan dana hingga Rp5 triliun untuk membeli saham pada Senin (19/10/2026).
Langkah yang disampaikan pria yang akrab disapa Babah Alun tersebut muncul setelah pasar saham Indonesia mengalami gejolak tajam menyusul kekhawatiran terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia.
Jusuf Hamka menilai koreksi harga saham dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham perusahaan dengan fundamental kuat, khususnya saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang memiliki prospek pembagian dividen.
Baca: Hendri Munief Dorong Pelaku IKM Pekanbaru Naik Kelas, Berharap Dukungan Anggaran Berlanjut pada 2027
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Sabtu (18/10/2026), ia mengajak masyarakat dan pelaku usaha agar tidak tinggal diam menghadapi tekanan terhadap pasar keuangan nasional.
“Kalau kita sebagai warga negara yang baik berpangku tangan saja, siapa yang bela negeri kita?” ujar pria yang akrab disapa Babah Alun tersebut, dalam unggahan di instagram pribadinya, Sabtu (18/10/2026).
Baca: IHSG Tertekan Usai Reshuffle Prabowo, Level 6.000 Kembali Jadi Sorotan Investor
Jusuf Hamka Siapkan Dana Rp5 Triliun untuk Beli Saham
Jusuf Hamka mengungkapkan bahwa dana Rp5 triliun tersebut disiapkan bersama sejumlah rekan bisnis melalui konsorsium. Rencana pembelian saham itu dijadwalkan berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026.
“Pasti hari Senin saya akan belanja dan kita, di kelompok kita, Rp5 triliun kita akan belanja di market untuk hari Senin,” katanya.
Baca: DPR Perkuat Koordinasi Ekonomi, Dasco Soroti Sinkronisasi Kebijakan Nasional
Menurutnya, keterlibatan pengusaha dalam pasar modal diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap perekonomian nasional ketika harga saham mengalami tekanan.
Ia juga mendorong pengusaha lain yang memiliki kapasitas keuangan untuk mempertimbangkan partisipasi di pasar saham. Menurut Jusuf, kekuatan investor domestik dapat berperan dalam menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Baca: 40 Persen Saham BEI Bakal Dimiliki Danantara, Independensi Jadi Sorotan
Meski demikian, keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada analisis risiko, kondisi keuangan perusahaan, serta tujuan investasi masing-masing investor.
Tekanan MSCI Jadi Perhatian Pasar Modal Indonesia
Gejolak pasar saham Indonesia berkaitan dengan kekhawatiran atas rencana MSCI mengevaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia. Persoalan transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan menjadi bagian dari perhatian dalam evaluasi tersebut.
Baca: Perdana Jadi Menkeu, Suahasil Ungkap APBN Defisit Rp240,1 Triliun hingga Agustus
Perubahan klasifikasi pasar berpotensi memengaruhi keputusan investor global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi. Situasi ini turut menambah tekanan terhadap saham-saham di Bursa Efek Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, ajakan Jusuf Hamka kepada pengusaha domestik menjadi sorotan karena disertai rencana pembelian saham dengan nilai besar.
Baca: The Fed Diproyeksi Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Rupiah hingga IHSG Dibayangi Tekanan
Namun, aksi pembelian oleh investor domestik tidak serta-merta menjamin pemulihan pasar. Pergerakan saham tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk sentimen global, fundamental emiten, likuiditas, dan kepercayaan investor.
Pengusaha Diajak Berperan, Investor Tetap Perlu Cermat
Jusuf Hamka berharap semakin banyak pengusaha Indonesia yang ikut memberikan dukungan terhadap pasar modal nasional. Ia menilai momentum penurunan harga saham dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang investasi jangka panjang.
Baca: Pengembangan Hortikultura Kampar Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat
Di sisi lain, investor perlu memahami bahwa saham memiliki risiko fluktuasi harga dan potensi kerugian. Karena itu, keputusan membeli saham sebaiknya dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata-mata mengikuti ajakan atau sentimen pasar.
Rencana Jusuf Hamka menyiapkan Rp5 triliun untuk membeli saham pun menjadi salah satu perkembangan yang menarik perhatian di tengah upaya menjaga kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia. (SM)
