Janji Pemerintah Untuk Swasembada Kedelai Makin Tak Jelas

Mawardi Tombang
Rabu, 9 Januari 2019 21:29:30

KANALSUMATERA.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha menilai, target swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah pada 2020 layak dikaji ulang. Sebab, lahan Indonesia sebagai negara tropis tidak memungkinkan pertumbuhan kedelai yang merupakan tanaman sub-tropis dapat maksimal. Iklim merupakan salah satu faktor yang memengaruhi tingkat produktivitas.

Berdasarkan data BPS pada 2018, kedelai Indonesia masih belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai lebih dari 3 juta ton per tahun. Produksi Indonesia hanya sebesar 982.598 ton, sehingga perlu melakukan impor sebanyak 2,6 juta ton untuk menutupi kekurangan produksi dalam negeri.

Arief mengatakan, jumlah selisih produksi yang besar ini perlu dipertimbangkan karena masih terlalu jauh untuk melakukan swasembada. "Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kebutuhan perajin tahun dan tempe," kata dia, dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (9/1).

Selain itu, Arief melanjutkan, kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembapan tanah cukup dan suhu relatif tinggi untuk pertumbuhan optimal. Sedangkan, di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air. Selain itu, drainase yang buruk juga menyebabkan tanah juga menjadi kurang ideal untuk pertumbuhan kedelai.

"Usaha produksi kedelai di Indonesia harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam. Hal ini disebabkan karena petani belum menilai kedelai sebagai tanaman utama," kata Arief.

Baca: Hendry Munief Soroti UMKM Bersertifikat SNI Rendah, Pemerintah Diminta Perkuat Pendampingan

Rasa pesimis untuk swasembada kedelai semakin kuat melihat jumlah impor yang meningkat dari tahun 2015 hingga 2018. Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, impor pada tahun 2015 dan 2016 berjumlah sekitar 2,3 juta ton. Pada 2017, naik menjadi 2,7 juta ton dan sempat turun menjadi 2,6 juta ton pada tahun lalu

Sementara itu, Arief menjelaskan, jumlah produksi kedelai pada rentang waktu yang sama mengalami fluktuasi. Pada 2015, produksi mencapai 963.183 ton dan turun menjadi 859.653 ton pada 2016. Tingkat produksi semakin turun pada 2017, yakni 538.728 ton dan mengalami peningkatan pada tahun lalu yang mencapai 982.598 ton.

Kementan akan terus berupaya meningkatkan produksi kedelai pada tahun ini, guna mewujudkan swasembada padi, jagung dan kedelai. Dua komoditas lainnya diklaim sudah tercapai swasembada, sedangkan kedelai masih membutuhkan perjuangan.

Sekretaris Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Maman Suherman mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menambah luas tanam seperti tumpangsari. Tahun ini, Kementan menargetkan tumpangsari 1,05 juta hektare atau setara luas pertanaman 21, juta hektare. Selain itu, 500 ribu hektare rawa di sejumlah daerah juga akan dimanfaatkan, termasuk di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.



Terkait
Pasar Murah Pemprov Riau Sambangi Kampar dan Empat Kecamatan Pekanbaru, Catat Jadwalnya
Pasar Murah Pemprov Riau Sambangi Kampar dan Empat Kecamatan Pekanbaru, Catat Jadwalnya
Bupati Kampar Perkuat Sinergi Perbankan dan UMKM untuk
Nobar Piala Dunia TVRI Lampung Jadi Ajang Promosi Efekt
Hendry Munief Kunjungi PLUT UMKM dan Riau Creative Hub,
Lainnya
Koperasi BBDM Salurkan Bantuan Sosial Rp10 Juta ke 4 Desa dan 1 Kelurahan di Bukit Batu Bengkalis
Koperasi BBDM Salurkan Bantuan Sosial Rp10 Juta ke 4 Desa dan 1 Kelurahan di Bukit Batu Bengkalis
Hendry Munief Tekankan Pelaku UMKM Implementasikan Ekon
Minggu Ini Harga Pinang Kering di Riau Rp10.050 per Kg
Momen Hari Sumpah Pemuda, Rahmad Ilahi Ajak Pemuda Bang
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Politik
SBY Soroti Politik Indonesia yang Kian Memanas, Minta Prabowo Kembalikan Etika Kekuasaan
SBY Soroti Politik Indonesia yang Kian Memanas, Minta Prabowo Kembalikan Etika Kekuasaan
Polemik Ijazah Gibran Memanas, PAN, Gerindra, PKB hingg
Andi Arief Bantah AHY Incar Kursi Wapres, Demokrat Pili
Kriminal
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Kapolri Bongkar Penyelundupan 1 Ton Ketamin di Belawan,
Bharada Andika Jadi Tersangka Kasus Polisi Tembak Polis
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind