Pemkab Kampar Pajaki Rumah Walet "Galau", Pengelola: Bina Kami Dulu!

Mawardi Tombang
Rabu, 16 Desember 2020 14:11:04

KANALSUMATERA.com - Kampar - Sejumlah pemilik Rumah Burung Walet (RBW) di Kabupaten Kampar mengeluhkan rencana pemerintah daerah yang ingin memungut pajak dari hasil penjualan sarang walet. Hal itu terlihat dari berbagai pertemuan yang dilakukan Pemda Kampar melalui Dispenda Kampar dengan pemilik RBW yang tersebar di seluruh kecamatan di Kampar.

"Kami bukan tak taat pajak. Tapi seharusnya, yang dilakukan pemerintah daerah adalah pembinaan kepada petani. Buat pelatihan, diskusi, seminar atau workshop agar petani berhasil. Setelah berhasil, baru kami bisa bayar pajak," ujar Hendra salah seorang peserta di acara sosialisasi pungutan pajak sarang walet yang ditaja Pemda Kampar di Kecamatan Bangkinang, Selasa kemarin.

Menurut Hendra, kebanyakan pemilik RBW yang hadir hanyalah petani yang usahanya baru mulai berkembang. Mereka haus akan ilmu serta trik-trik bagaimana agar RBW-nya berhasil.

Oleh sebab itu, kata Hendra lagi, Pemda hendaknya memfasilitasi pemilik RBW agar mendapatkan ilmu dengan mendatangkan pakar-pakar budidaya walet yang ada di Indonesia. "Jangan tiba-tiba ingin meminta pajak. Saya yakin, hanya sebagian kecil saja dari pemilik RBW di Kampar yang layak untuk dipajak. Selebihnya adalah RBW galau, " ujarnya.

Baca: Hendry Munief Ingatkan 17 Ormas BMIWI Riau Bangun Bisnis Berkelanjutan, Hindari Cara Instan

RBW galau kata Hendra, adalah gedung walet yang sudah aktif tapi belum berhasil. Jangankan panen sarang walet, gedungnya jarang di datangi burung walet alias zonk.

Hal senada juga diungkapkan Zainul Aziz seorang pemilik RBW di Kecamatan Tambang. Menarik pajak dari penjualan sarang walet tidaklah mudah. Soalnya, kebanyakan RBW di Kabupaten Kampar masih tergolong RBW baru berdiri yang tingkat keberhasilannya masih rendah.

Jika Pemda Kampar tidak bijak dalam memungut pajak dari hasil penjualan sarang walet akan sia-sia. Yang yang terjadi justru dana Pemda habis untuk sosialisasi sana sini, sementara pajak yang diharapkan tidak terkumpul.

"Usaha RBW memang unik. Ada semacam gambling, ketidakpastian atau tergantung rezeki. Sebab tidak ada patokan keberhasilan. Ada RBW yang usianya tahunan namun belum berhasil. Tetapi ada juga usia gedung baru satu tahun, tapi sudah panen satu kilo," ujar Zainul.

Baca: Bos Baru BGN Sidak Dapur MBG Dini Hari, Pastikan Kualitas Makanan dan Kebersihan Terjaga

Hendra dan Zainul Aziz sepakat, yang mesti dilakukan Pemda Kampar saat ini bukan memungut pajak, tapi pembinaan. Sebab, petani walet haus akan ilmu. Mereka ingin menguasai
seluk beluk usaha RBW agar cepat berhasil.

Nah, selama ini, kata Zainul Aziz, pemilik RBW mendapatkan ilmu dari mulut ke mulut atau belajar dari internet. Tidak ada campur tangan pemerintah dalam bentuk pembinaan.

"Jika sektor lain mendapat perhatian pemerintah dalam bentuk penyuluhan, permodalan dan sebagainya, sektor walet tak pernah diperhatikan. Justru saat ini dimintai pajak. Ini sungguh tidak tepat," ujarnya. ***



Terkait
Syamsuar Minta Direktur Baru BSP Berani Berbenah Demi Kembalikan Marwah Riau
Syamsuar Minta Direktur Baru BSP Berani Berbenah Demi Kembalikan Marwah Riau
Harga TBS Sawit Riau Periode 1–7 Juli 2026 Naik, Umur
Harga TBS Pelalawan Naik, Petani Mulai Tersenyum Usai P
Anggota Komisi VII DPR Hendry Munief Sambut Baik Diskon
Lainnya
Hendry Munief Dorong Penguatan Mindset Bisnis dalam Pelatihan Digital Marketing BMIWI Riau
Hendry Munief Dorong Penguatan Mindset Bisnis dalam Pelatihan Digital Marketing BMIWI Riau
Allhamdulilah Harga Pinang Kering di Riau Naik Jadi Rp1
Tarif Kargo Mahal, Empat Perusahaan Logistik Bangkrut,
Dewan Minta Pemko Pekanbaru Efektifkan Keberadaan Pasar
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind
Kriminal
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Terorisme di Enam Provin
Pusdokkes Polri Tingkatkan Kemampuan Personel Polda Ria
Hukum
Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK Diminta Usut Tuntas
Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB Tuai Kecaman DPR, KPK Diminta Usut Tuntas
KPK Gelar OTT di BNPB, Sejumlah Pihak Diamankan dan Dip
Polisi Usut Pengeroyokan Anggota Satpol PP oleh Pekerja
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan